Biografi Sang Maestro Bengawan Solo Sumber : okezone.com Tanggal Update / Pengiriman : 21-05-2010 Isi berita :
Gesang Martohartono tutup usia pukul 18.07 WIB di RS PKU, Solo Jawa Tengah. Maestro keroncong ini banyak meninggalkan jasa, salah satunya lagu Jembatan Solo yang populer hingga negeri Jepang.
JAKARTA- Gesang
Martohartono tutup usia pukul 18.07 WIB di RS PKU, Solo Jawa Tengah.
Maestro keroncong ini banyak meninggalkan jasa, salah satunya lagu
Jembatan Solo yang populer hingga negeri Jepang.
Pemilik nama
kecil Sutardi ini dilahirkan di Kampung Kemlayan, Surakarta, Jawa Tengah
1 Oktober 1917. Gesang lahir dari pasangan pengusaha batik Martodiharjo
dari perkawinan istri keduanya. Gesang merupakan anak dari sepuluh
orang bersaudara.
Setahun setelah menciptakan Bengawan Solo,
Gesang memutuskan untuk menikah dengan seorang wanita bernama Waliyah.
Setelah 22 tahun tak berumah tangga, di tahun 1963 mereka bercerai.
Waliyah tak memberikan Gesang keturunan.
Di tahun 1942, Gesang
mengikuti teater keliling bernama Bintang Surabaya yang dipimpin Fred
Young. Dia menjadi penyanyi di teater tersebut, setiap terjadi
pergantian babak pementasan.
Di tahun 1963, berkat booming-nya
lagu Bengawan Solo, Gesang dikenal sebagai seniman besar sehingga dia
diajak melakukan kunjungan ke Republik Rakyat Cina dan Korea Utara
bersama misi kesenian Indonesia.
Kemudian di tahun 1971, untuk
mengenang jasa seniman besar, sejumlah kelompok artis safari yang
bernaung di bawah Partai Golkar membuat sebuah pertunjukan bertema
“Malam Bing Slamet dan Gesang” di Taman Ismail Marzuki.
Karena
jasa-jasanya, Pemda Sala mengangkat Gesang sebagai Warga Kota Teladan
kelas II yang ditandatangani Wali Kota saat itu Kusnandar. Tidak hanya
di situ, Gesang juga mendapat penghargaan atas keputusan presiden dan
keputusan menteri. Dia juga menerima lencana, piagam, dan uang tabanas
sebesar Rp25 ribu.
Di tahun 1978, Gesang juga mendapatkan
penghargaan dari Organisation for Industrian and Spiritual Culturan
Advancemen (OISCA).
Kemudian Gesang mengeluarkan album rekaman
bertajuk Keroncong Asli Gesang yang diproduksi PT Gema Nada Pertiwi
(GMP) Jakarta di tahun 2002. Setahun kemudian, Gesang mendapat anugerah
Permata Award dari Bank Permata sebagai tokoh yang mempunyai kontribusi
besar terhadap profesi yang ditekuninya. Gesang juga menerima
penghargaan khusus kategori The Legend dalam Anugerah Musik Indonesia
(AMI) Samsung Award 2004 lalu.
Tahun 2005, Gesang terpilih
sebagai satu-satunya seniman yang meraih penghargaan Special Achievement
For A Lifetime dalam acara 1st Bali Music Award 2005. Penghargaan
diberikan oleh Bali International Music Award (BIMA) atas karyanya yang
melegenda.
Meskipun karyanya sudah terkenal, Gesang tak berhenti
berkarya. Dia pun menciptakan lagu Caping Gunung yang diciptakannya di
tahun 1975. Lagu ini merupakan lagu terakhir yang Gesang ciptakan.
Tahun
2007, Gesdang dirawat di rumah sakit PKU Solo dan menjalani operasi
prostat. Di Januari 2010, Gesang masuk rumah sakit kembali, tak lama
kemudian Gesang pulang.
Selanjutnya, Gesang masuk rumah sakit
Rabu 13 Mei karena gangguan pernafasan dan infeksi kandungan kemih.
Minggu, 16 Mei Gesang masuk ICU RSU Solo karena mengalami penurunan
tekanan darah. Selasa, 18 Mei Gesang digosipkan meninggal dunia, akan
tetapi kabar tersebut ternyata salah.
Barulah, dua hari
kemudian, Kamis 20 Mei pukul 18.07 WIB Gesang menghembuskan nafas
terakhirnya. Selamat jalan sang maestro. Kami akan selalu mengenang
jasa-jasamu. (uky)